Sunday, 12 May 2013

Memperkirakan pH Suatu Larutan


Standar Kompetensi : Memahami sifat – sifat larutan asam basa, metode pengukuran dan penerapannya.

Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan teori – teori asam basa dengan menentukan sifat larutan dan menghitung pH larutan.

Teori :
Untuk mengetahui suatu larutan bersifat asam atau basa dapat dilakukan dengan menggunakan indicator kertas lakmus. Namun, apabila ingin mengetahui berapa pH suatu larutan diperlukan indicator universal atau pH meter. Ada juga cara lain, yaitu dengan menguji larutan terebut dengan beberapa larutan tersebut dengan beberapa indicator yang telah diketahui trayek pH nya seperti pada tabel .trayek pH dan perubahan warna beberapa larutan indicator.
No.
Indikator
Perubahan Warna
Trayek pH
1.
Metil Jingga
Merah – Kuning
2,9 – 4,0
2.
Metil Merah
Merah – Kuning
4,2 – 6,3
3.
Bromtimol Biru
Kuning – Biru
6,0 – 7,6
4.
Fenolftalein
Tak berwarna – Merah
8,3 – 10,0
5.
Lakmus
Merah – biru
5,5 – 8,0

Indikator asam dan basa adalah zat yang dapat memberikan warna yang berbeda pada larutan asam dan basa. Melalui perbedaan warna tersebut akhirnya dapat diperkirakan kisaran pH suatu larutan. Trayek perubahan warna adalah batasan pH dimana terjadi perubahan warna indikator. Salah satu indikator yang umum digunakan dalam pengujian larutan asam dan basa adalah kertas lakmus. Kertas lakmus terdiri dari 2 warna yaitu lakmus biru dan lakmus merah. Jika larutan bersifat asam, maka kertas lakmus biru akan berubah menjadi merah, sedangkan kertas lakmus merah tidak akan berubah warna (tetap berwarna merah). Jika suatu larutan bersifat basa, maka kertas lakmus biru tidak akan berubah warna (tetap biru) sedangkan kertas lakmus merah akan berubah warna menjadi biru. Namun jika tidak terjadi perubahan warna kertas lakmus (lakmus biru tetap biru dan lakmus merah tetap merah) maka larutan tersebut bersifat netral.
Tujuan : Memperkirakan pH beberapa larutan dengan menggunakan kertas lakmus dan beberapa  larutan indicator asam basa.

Alat dan Bahan :
1.    Tabung Reaksi
2.    Pipet Tetes
3.    Rak Tabung
4.    Larutan A, B, C
5.    Air sumur
6.    Air sungai
7.    Air Cucian Beras
8.    Air Sabun
9.    Air Kelapa
10.  Air Teh
11.  Larutan Indikator Asam Basa : MM, MJ, BTB dan PP

Cara Kerja:
1.    Masing – masing larutan yang akan diperiksa dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1/4 tabung.
2.    Sifat larutan diuji dengan kertas lakmus merah dan biru, kemudian perubahan warna yang terjadi dicatat.
3.    Larutan A dimasukkan ke dalam empat buah tabung reaksi sebanyak 1/4 tabung.
4.    Larutan indicator Metil Merah diteteskan dengan menggunakan pipet tetes pada tabung 1, Metil Jingga pada tabung 2, Bromo Timol Biru pada tabung 3 dan Fenol Ftalein pada tabung 4.
5.    Perubahan warna yang terjadi diamati.
6.    Hal yang sama (langkah 3 – 5) dilakukan pada larutan yang lain.

Hasil Pengamatan :
1.    Pengujian dengan kertas lakmus.

No.
Larutan
Perubahan Warna
Perkiraan pH
Lakmus Merah
Lakmus Biru
1.
A
Biru
Biru
≥ 8,0
2.
B
Merah
Biru
5,5 – 8,0
3.
C
Merah
Merah
≤ 5,5
4.
Air Sumur
Merah
Biru
5,5 – 8,0
5.
Air Sungai
Merah
Biru
5,5 – 8,0
6.
Air Sabun
Merah
Biru
5,5 – 8,0
7.
Air Teh
Merah
Biru
5,5 – 8,0
8.
Air Cucian Beras
Merah
Biru
5,5 – 8,0
9.
Air Kelapa
Merah
Merah
≤ 5,5

2. Pengujian dengan larutan indikator
No.
Larutan
Perubahan Warna
Perkiraan pH
MM
MJ
BTB
PP
1.
A
Kuning
Jingga
Biru
Ungu
≥ 10,0
2.
B
Merah
Merah
Kuning
Tidak berwarna
≤ 2,9
3.
C
Merah
Merah
Pink
Tidak berwarna
≤ 2,9
4.
Air Sumur
Jingga
Jingga
Hijau
Tidak berwarna
6,0 – 7,6
5.
Air Sungai
Kuning
Jingga
Hijau
Tidak berwarna
6,0 – 7,6
6.
Air Sabun
Jingga
Jingga
Hijau
Tidak berwarna
6,0 – 7,6
7.
Air Teh
Jingga
Jingga
Hijau
Tidak berwarna
6,0 – 7,6
8.
Air Cucian Beras
Kuning
Jingga
Hijau
Tidak berwarna
6,0 – 7,6
9.
Air Kelapa
Merah
Jingga
Kuning
Tidak berwarna
2,9 – 4,0

Pembahasan:
1.    Sebutkan larutan apa saja yang bersifat asam, basa dan netral!
Asam    : Larutan C dan larutan air kelapa.
Basa     : Larutan A.
Netral   : Larutan B, larutan air sungai, larutan air sumur, larutan air PAM, larutan  air the dan larutan air cucian beras.
2.    Bagaimanakah nilai pH untuk larutan yang bersifat asam, basa dan netral!
Asam: < 7 (1-6) dimana semakin ke kiri maka semakin asam.
Basa     : > 7 (8-14) dimana semakin ke kanan maka semakin basa.
Netral   : 7 
Kesimpulan :
Jika kita menguji pH suatu larutan menggunakan larutan indicator, kita dapat menentukan besar pH larutan tersebut lebih jelas. Dibandingkan jika kita menggunakan kertas lakmus, karena kita hanya bisa menentukan jenis larutan tersebut(asam, basa, netral).

Penentuan Perubahan Entalpi Pembakaran Bahan Bakar

Tujuan: Menentukan H pembakaran methanol

Alat dan Bahan:
- Gelas kimia
- Pembakar Spirtus
- Neraca
- Methanol
- Air
- Termometer

Langkah kerja:
1. Timbang air dalam gelas kimia sebanyak 100 ml
2. Ukur suhu air awal dan catat suhunya
3. Isi pembakar spirtusdengan Methanol timbang pembakar tersebut dengan neraca
4. Nyalakan pembakar spirtus dan panaskan air sampai hampir mendidih
5. Catat suhu air saat pembakar spirtus dimatikan
6. Timbang pembakar spirtus setelah pembakaran

Hasil Pengamatan:
Massa air: 100 ml = 100 gr
Massa lampu + methanol sebelum pemanasan: 295,29 gr
Massa lampu + methanol setelah pemanasan: 280,65 gr
Suhu air awal: 30 C
Suhu air setelah pemanasan: 88 C
Massa methanol yang hilang: 295,29 - 280,65 = 14,64 gr
Mr methanol (CH3OH): 32

Perhitungan:
q reaksi = m.c.T
            =100. 4,2. 58
            = 24360 J

mol methanol = gr/Mr
                    =14,64/32
                    = 0,458 mol


∆ H = – q/mol methanol
       = - 24360 J/ 0.458 mol = -53187.7 J/mol 
       = -53.187 KJ/mol
 


Kesimpulan: Berdasarkan perubahan entalpi dari pembakaran methanol yang bertanda negative dapat diketahui bahwa reaksi pembakaran methanol termasuk reaksi eksoterm. Karena kalor dilepaskan dari sistem ke lingkungan.

Thursday, 13 December 2012

PEMBUATAN LARUTAN KIMIA

Standar Kompetensi: Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia dan faktor - faktor yang mempengaruhinya serta penerapan dalam kehidupan. 

Kompetensi Dasar: Mendeskripsikan pengertian laju reaksi dengan melakukan percobaan tentang faktor - faktor yang mempengaruhi laju reaksi. 

Tujuan Pembelajaran: Menjelaskan pengertian kemolaran, serta cara menyediakan larutan dengan kemolarn tertentu.

Teori: 
Zat kimia umumnya diperdagangkan dalam bentuk padatan (kristal) atau larutan pekat, jarang sekali dalam bentuk pakai. sementara itu, di percobaan - percobaan laboratorium seringkali menggunakan larutan encer. Oleh karena itu, larutan yang diperlukan harus dibuat dari larutan pekat atau melarutkan zat padat. membuat larutan dari padatan murni dilakukan dengan mencampurkan zat terlarut dan pelarut dalam jumlah tertentu. larutan dibuat dengan konsentrasi tertentu dan dinyatakan dalam konsentrasi molaritas (M). 

M = n / V
dimana : M = Molaritas
n = jumlah zat terlarut (Mol)
V = volume larutan (Liter)

Salah satu keuntungan jika  konsentrasi larutan dinyatakan dengan kemolaran, maka menentukan jumlah mol zat terlarut dapat diperoleh dengan mengukur volume larutan. 

Ketika bekerja di laboratorium juga diperlukan untuk mengencerkan larutan, yaitu memperkecil konsentrasi larutan dengan jalan menambahkan sejumlah pelarut tertentu. Pengenceran menyebabkan volume dan kemolaran larutan berubah, tetapi jumlah zat terlarut tidak berubah. 
Maka: n1=n2 atau V1.M1=V2.M2

~Alat dan Bahan~
Neraca
Kaca Arloji
Labu ukur 100ml dan 50ml
Pipet volumetrik 25ml
Pengaduk
Aquadest
Asam Oksalat C2H2O4
Corong
Bulp

~Cara Kerja~





Timbang ± 0.5 gram asam oksalat ke dalam kaca arloji
Masukkan asam oksalat ke dalam labu ukur 100 ml
Larutkan dengan aquadest, dan tambahkan hingga tanda batas
Kocok larutan sampai homogen
Pipet 25 ml larutan tersebut ke dalam labu ukur 50 ml, tambahkan aquadest hingga tanda batas.

~Perhitungan~

a. Hitunglah molaritas larutan asam oksalat
  M = gr/mr . 1000/v
       =  0,5/0,9 . 1000/100
       =  0,5/0,9 . 10
       =  0,056 M

b. Hitunglah konsentrasi asam oksalat setelah diencerkan
   M1  . V1 = M2 . V2
0,056 . 25  = M2 . 50
           1,4  = M2 . 50
           M2 =  0,028 M


~Kesimpulan~


Kemolaran adalah banyaknya jumlah zat terlarutdalam 1liter. Ketika larutan dalam keadaan pekat molaritas 0,056, dan setelah diencerkan menjadi 0,028. Jadi molaritas akan berkurang jika larutan diencerkan.